Admin Bukan Ustadz

Ada yang bisa kami bantu?

BERTAHAN UNTUK MENYERANG

BERTAHAN UNTUK MENYERANG

BERTAHAN UNTUK MENYERANG! (BELAJAR DARI PERANG KHANDAQ)

To the point aja ya! Kita bisa ambil pelajaran langsung dari Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam, dalam perang Khandaq. Strategi yang sangat cerdas!

Pertama, saat perang Khandaq, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam, memakai baju perang dua lapis. Ya, pakai baju perang double! Ini bisa kita sebut sebagai “Perlindungan Individual.” Kedua, atas usulan Salman Al-Farisi, Rasulullah dan para sahabat kemudian menggali parit. Ini bisa kita sebut dengan “Perlindungan Kolektif.”

Bisa dipahami ya, ada “PERLINDUNGAN INDIVIDUAL dan PERLINDUNGAN KOLEKTIF.” Namun, saya nggak membahas tentang ini. Mohon maaf! Next time, insyaa Allah. Hehe. Saya mau bahas satu hal yang juga penting yaitu saat Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam, dan para sahabat membuat parit di perang Khandaq.

Bagi saya, parit dalam perang Khandaq ini bukan merupakan strategi pertahanan saja. Kalau diawal tulisan tadi sebagai perlindungan. Saya pikir-pikir lagi, sebenernya parit ini nggak cuma untuk pertahanan atau bertahan saja. Melainkan untuk bertahan sekaligus menyerang.

Menarik nih, BERTAHAN SEKALIGUS MENYERANG. Membuat pertahanan sekaligus untuk penyerangan! Jadi, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam, secara psikologis paham betul, bukan hanya sekedar bertahan saja. Bukan hanya untuk melindungi diri dan kaum muslimin saja. Karena kalau dengan membuat parit tujuannya hanya untuk berlindung atau melindungi kaum muslimin. Ini bukan goals utamanya. Ini soal mindset juga!

Parit ini kan sebenarnya jebakan buat musuh. Jebakan sekaligus untuk pertahanan. Bila Rasulullah nggak bikin “jebakan” parit ini, jumlah kaum Muslimin yang hanya 3000 orang akan dengan mudah dicabik-cabik oleh musuh yang jumlahnya 10.000 orang.

Apa pelajarannya? Pertama, mindset kita saat ini jangan hanya berpikir bagaimana caranya bertahan saja, gimana caranya melindungi diri saja. Tidak hanya sekedar untuk bertahan hidup saja, tidak hanya sekedar yang penting masih punya penghasilan, Alhamdulillah meski pas-pasan. Bukan itu mindsetnya!

Bagi pebisnis misalnya, cara berpikirnya tidak hanya sekedar yang penting bisnis masih bisa jalan, masih bisa bertahan, masih bisa gaji karyawan! Tidak begitu cara berpikirnya, Fernando! Berpikirlah untuk tetap bisa bertahan sekaligus untuk menyerang. Beda auranya, beda kelasnya! Iya nggak? Sekali lagi nih, bacanya pelan-pelan aja, “BERTAHAN UNTUK MENYERANG!” Pikirkan bagaimana caranya kita bisa bertahan untuk menyerang! Yess!!!

Kedua, sampai kapan kita kuat bertahan? Tabungan yang ada sekarang bisa untuk nafas berapa panjang? Cashflow bisnis atau keuangan perusahaan yang tersisa, bisa untuk biaya operasional berapa lama? Logistik juga bisa untuk bertahan berapa lama? Kalau pun ada yang bilang, “Saya aman kok!” Tetap aja, bagi saya, hanya sekedar bertahan bukan pilihan yang aman!

Entahlah, kondisi paceklik ini kapan berakhirnya, kita nggak tahu. Cuma prediksi ini dan itu saja! Intinya, masih belum dapat dipastikan kapan masa paceklik ini berakhir! Maka, bertahan bukan pilihan aman. Tapi, bertahanlah untuk menyerang! Bertahan tapi juga tetap bisa melumpuhkan. Bertahan tapi tetap juga menghasilkan.

Bisa kok kita bertahan sekaligus menyerang! Bisa, insyaa Allah. Semua tergantung mindset kita! Terakhir, bila seandainya kita ini sedang berperang, maka berperanglah untuk menang. Bukan berperang untuk tidak kalah! Bisa dipahami ya. Selamat bertahan untuk menyerang! #BukanUstadz 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *